Jumat, 26 Februari 2016

Cerpen


Tangisan  di Ujung Senja
          Hari mulai senja. Tak nampak mentari yang berjalan menuju singgasananya. Kabut tebal menyelimuti indahnya langit. Gemuruh suara guntur juga percikan air yang menghantam tanah. Ketika itu ada seorang gadis yang hanya bisa duduk  terpaku di sudut kamar. Gadis itu bernama Reina.
          Sang gadis hanya duduk sambil menatap keluar jendela. Ia sedang merenungkan sesuatu. Tiba – tiba Reina teringat akan suatu hal. Hal yang membuatnya sangat merasa bersalah. Pagi itu Reina sedang berada di rumahnya. Seperti biasa saat hari Senin , ia sangat tergesa – gesa untuk berangkat sekolah karena takut terlambat. Reina termasuk siswa yang disiplin, ia belum pernah terlambat untuk datang ke sekolah. Ia sangat mementingkan pendidikannya.
          Kala itu Ibunya juga sedang sibuk menyiapkan dagangan yang biasanya ia jual pada pagi hari. Oleh karena itu, ia harus menyiapkan keperluannya sendiri, mulai dari bekal makanannya sampai bahan makanan yang ingin ia bawa karena ia tinggal di asrama.
          Ia memulai dengan menyiapkan bekal makananya, ia memasak sendiri apa yang akan dia bawa. Ketika sedang sarapan waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB.  Padahal ia belum selesai mempersiapkan apa  yang harus dibawanya. Ibunya sudah membantu, akan tetapi sang ibu juga sibuk dengan dagangannya.
          “ Ibu, gimana ini udah jam 05.30 WIB, cepat ambilkan baju yang ada di kursi!” Perintah Reina pada ibunya sambil menunjuk barang yang ia maksud.
          “ Iya nak, sebentar ini Ibu sedang memasak, sebentar lagi selesai,” jawab sang ibu.
Karena Reina sudah tidak sabar akhirnya ia mulai marah – marah.
          “ Cepat Ibu ini sudah siang.” Teriak Reina dengan keras.
          “ Minumnya bawa kesini sekalian!” Tambah Reina masih dengan berteriak.
          Dengan tergesa – gesa sang ibu mengambilkan baju serta minum untuk Reina dan memberikannya kepada Reina. Sang gadis segera menerimanya dengan perlakuan seenaknya sendiri. Kemudian dia meminum minuman yang dibuatkan sang ibu. Akan tetapi, tiba – tiba,
          “ Praakkkk.!!!!”
          Gelas yang dipegangnya ditaruh dengan hentakan yang agak keras di meja sehingga menyebabkan air membasahi sedikit permukaan taplak meja.
          “ Ahhh, Ibu ini gimana sih bikin teh kok sepanas ini, lidah Reina jadi sakit nih,” protes Reina kepada ibunya karena minumannya tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya.
          “ Maaf nak, ini baru Ibu buat, jadi masih panas,” jawab ibu dengan suara parau sambil mengambil gelas dari meja.
          “ Tunggu sebentar, biar Ibu buatkan lagi minuman yang dingin,” lanjut ibu kepada Reina.
          “ Ahhh, gak usah! Kelamaan! Reina mau berangkat nanti keburu telat.” Jawab Reina dengan sewot. Sambil menyalami tangan ibunya dengan kasar.
“ Hati – hati nak!” Pesan ibu kepada sang gadis.
          Saat itu terlihat mata ibu yang berkaca – kaca. Namun Reina menghiraukannya. Tak mempedulikan perasaan sang ibu. Ia selalu memperlakukan ibunya seenaknya sendiri.
          Tak terasa air mata mulai mengalir di pipi sang gadis. Ia merasa bersalah karena telah menyakiti hati sang ibu. Teringat semua kesalahan- kesalahan yang telah dilakukannya kepada ibu.
          Saat ia duduk di bangku SD, ia sering merepotkan ibunya bahkan ia juga memarahi ibunya karena apa yang dia inginkan tidaklah terpenuhi.
          Tak terhitung berapa kali ia menyakiti hati ibunya. Mungkin sudah ratusan kali atau bahkan ribuan kali. Apa yang dia lakukan kepada ibunya tidak sebanding dengan apa yang ibunya lakukan kepada Reina. Ibu sang gadis adalah orang yang penyayang dan sangatlah sabar. Ia selalu berusaha membuat anaknya senang dengan apa yang dia lakukan. Banyak hal yang telah ia korbankan untuk Reina.
          Pernah suatu hari, saat Reina masih di sekolah, tiba – tiba hujan mengguyur dengan deras ditemani sang bayu dan petir yang menggelegar. Ketika itu sudah waktunya untuk pulang sekolah. Namun karena kondisi cuaca yang sedemikian rupa, menyebabkan Reina harus menunggu sampai hujan reda. Saat itu, ketika hujan masih mengguyur dengan derasnya, tiba – tiba sang ibu datang dengan membawa payung dan berjalan kaki. Ia rela menerjang derasnya hujan dan berbasah – basahan hanya untuk menjemput sang anak yang masih di sekolah. Yang lebih mengagumkan lagi dari ibu Reina adalah tidak hanya sekali ia melakukan hal demikian, namun sering atau bahkan setiap kali hujan dan ketika Reina lupa untuk membawa payung, ia selalu melakukan hal tersebut. Hal ini dilakukan olehnya karena ia tidak ingin anaknya sakit, ia tak peduli dengan rintangan yang akan dihadapinya. Hal utama baginya adalah sang anak.
          Air mata yang jatuh di pipi Reina semakin deras, hingga membasahi jilbab cantik yang dikenakannya. Sekarang ia pun tersadar akan apa yang telah ia lakukan selama ini kepada orang tuanya, tetutama sang ibu. Hal itu merupakan kesalahan terbesar. Tak terhitung berapa kali ia menyakiti sang ibu, orang yang telah memperjuangkannya sampai ia ada di dunia ini. Di hadapan Reina, perjuangan sang ibu untuknya tak bernilai apa – apa. Namun sekarang, tak pernah terbayangkan oleh Reina. Bagaimana rasa sakit yang dipendam ibunya atas perlakuannya.
          Rasa sakit semakin menyayat hatinya. Muncul gejolak batin di hatinya. Ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia takkan mengulang kesalahannya dan akan selalu berusaha membuat orang tuanya bahagia.
          Tak terasa waktu sudah semakin mendekati malam. Suara adzan berkumandang memanggil para umat untuk segera bersujud di hadapan – Nya. Reina mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Matanya terasa pedih, bengkak serta memerah. Dengan badan yang masih lemas, ia beranjak dari sudut kamar untuk berwudhu. Setelah itu ia salat dengan khusuk dan berdo’a memohon ampun kepada sang Pencipta atas segala dosa – dosa yang telah ia perbuat kepada orang tuanya serta mendo’akan orang tuanya agar selalu dalam lindungan – Nya.
          Setelah hati Reina terasa tenang, dengan besar hati dan mengalahkan malu yang ada pada dirinya, ia segera menelpon orang tuanya untuk meminta maaf. Kala itu tangis Reina kembali pecah, begitupun dengan orang tuanya. Dalam hati Reina, ia bertekad untuk berusaha tidak lagi menyakiti hati orang tuanya terutama sang ibu karena ia tahu bahwa surga ada di telapak kaki ibu.


Tugas ini diposting dari Perpustakaan SMAN 2 Magelang

1 komentar:

  1. OK, penulisan kata "ibu" tidak perlu diawali kapital, kecuali yang kata sapaan. Penulisan tanda baca dalam dialog juga perlu diperhatikan --> coba lihat cerpen atau novel bersastra di perpusatakaan.

    BalasHapus