Tangisan
di Ujung Senja

Hari mulai senja. Tak nampak mentari
yang berjalan menuju singgasananya. Kabut tebal menyelimuti indahnya langit.
Gemuruh suara guntur juga percikan air yang menghantam tanah. Ketika itu ada
seorang gadis yang hanya bisa duduk
terpaku di sudut kamar. Gadis itu bernama Reina.
Sang gadis hanya duduk sambil menatap
keluar jendela. Ia sedang merenungkan sesuatu. Tiba – tiba Reina teringat akan
suatu hal. Hal yang membuatnya sangat merasa bersalah. Pagi itu Reina sedang
berada di rumahnya. Seperti biasa saat hari Senin , ia sangat tergesa – gesa
untuk berangkat sekolah karena takut terlambat. Reina termasuk siswa yang
disiplin, ia belum pernah terlambat untuk datang ke sekolah. Ia sangat mementingkan pendidikannya.
Kala itu
Ibunya juga sedang sibuk menyiapkan dagangan yang biasanya ia jual pada pagi
hari. Oleh karena itu, ia harus menyiapkan keperluannya sendiri, mulai dari
bekal makanannya sampai bahan makanan yang ingin ia bawa karena ia tinggal di
asrama.
Ia memulai
dengan menyiapkan bekal makananya, ia memasak sendiri apa yang akan dia bawa.
Ketika sedang sarapan waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB. Padahal ia belum selesai mempersiapkan
apa yang harus dibawanya. Ibunya sudah
membantu, akan tetapi sang ibu juga sibuk dengan dagangannya.
“ Ibu,
gimana ini udah jam 05.30 WIB, cepat ambilkan baju yang ada di kursi!” Perintah
Reina pada ibunya sambil menunjuk barang yang ia maksud.
“ Iya nak,
sebentar ini Ibu sedang memasak, sebentar lagi selesai,” jawab sang ibu.
Karena Reina sudah tidak sabar akhirnya ia mulai marah –
marah.
“ Cepat
Ibu ini sudah siang.” Teriak Reina dengan keras.
“ Minumnya
bawa kesini sekalian!” Tambah Reina masih dengan berteriak.
Dengan
tergesa – gesa sang ibu mengambilkan baju serta minum untuk Reina dan
memberikannya kepada Reina. Sang gadis segera menerimanya dengan perlakuan
seenaknya sendiri. Kemudian dia meminum minuman yang dibuatkan sang ibu. Akan
tetapi, tiba – tiba,
“
Praakkkk.!!!!”
Gelas yang
dipegangnya ditaruh dengan hentakan yang agak keras di meja sehingga
menyebabkan air membasahi sedikit permukaan taplak meja.
“ Ahhh,
Ibu ini gimana sih bikin teh kok sepanas ini, lidah Reina jadi sakit nih,”
protes Reina kepada ibunya karena minumannya tidak sesuai dengan apa yang
dikehendakinya.
“ Maaf
nak, ini baru Ibu buat, jadi masih panas,” jawab ibu dengan suara parau sambil
mengambil gelas dari meja.
“ Tunggu
sebentar, biar Ibu buatkan lagi minuman yang dingin,” lanjut ibu kepada Reina.
“ Ahhh,
gak usah! Kelamaan! Reina mau berangkat nanti keburu telat.” Jawab Reina dengan
sewot. Sambil menyalami tangan ibunya
dengan kasar.
“ Hati – hati nak!” Pesan ibu kepada sang gadis.
Saat itu
terlihat mata ibu yang berkaca – kaca. Namun Reina menghiraukannya. Tak
mempedulikan perasaan sang ibu. Ia selalu memperlakukan ibunya seenaknya
sendiri.
Tak terasa air mata
mulai mengalir di pipi sang gadis. Ia merasa bersalah karena telah menyakiti
hati sang ibu. Teringat semua kesalahan- kesalahan yang telah dilakukannya kepada ibu.
Saat ia
duduk di bangku SD, ia sering merepotkan ibunya bahkan ia juga memarahi ibunya
karena apa yang dia inginkan tidaklah terpenuhi.
Tak terhitung berapa
kali ia menyakiti hati ibunya. Mungkin sudah ratusan kali atau bahkan ribuan
kali. Apa yang dia lakukan kepada ibunya tidak sebanding dengan apa yang ibunya
lakukan kepada Reina. Ibu sang gadis adalah orang yang penyayang dan sangatlah
sabar. Ia selalu berusaha membuat anaknya senang dengan apa yang dia lakukan.
Banyak hal yang telah ia korbankan untuk Reina.
Pernah suatu hari, saat Reina masih di
sekolah, tiba – tiba hujan mengguyur dengan deras ditemani sang bayu dan petir
yang menggelegar. Ketika itu sudah waktunya untuk pulang sekolah. Namun karena
kondisi cuaca yang sedemikian rupa, menyebabkan Reina harus menunggu sampai
hujan reda. Saat itu, ketika hujan
masih mengguyur dengan derasnya, tiba – tiba sang ibu datang dengan membawa payung
dan berjalan kaki. Ia rela menerjang derasnya hujan dan berbasah – basahan hanya
untuk menjemput sang anak yang masih di sekolah. Yang lebih mengagumkan lagi
dari ibu Reina adalah tidak hanya sekali ia melakukan hal demikian, namun
sering atau bahkan setiap kali hujan dan ketika Reina lupa untuk membawa payung,
ia selalu melakukan hal tersebut. Hal ini dilakukan olehnya karena ia tidak
ingin anaknya sakit, ia tak peduli dengan rintangan yang akan dihadapinya. Hal
utama baginya adalah sang anak.
Air mata
yang jatuh di pipi Reina semakin deras, hingga membasahi jilbab cantik yang
dikenakannya. Sekarang ia pun tersadar akan apa yang telah ia lakukan selama
ini kepada orang tuanya, tetutama sang ibu. Hal itu merupakan kesalahan
terbesar. Tak terhitung berapa kali ia menyakiti sang ibu, orang yang telah
memperjuangkannya sampai ia ada di dunia ini. Di hadapan Reina, perjuangan sang ibu untuknya tak bernilai apa – apa. Namun sekarang, tak pernah terbayangkan
oleh Reina. Bagaimana rasa sakit yang dipendam ibunya atas perlakuannya.
Rasa sakit
semakin menyayat hatinya. Muncul gejolak batin di hatinya. Ia tak bisa memaafkan
dirinya sendiri. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia takkan mengulang
kesalahannya dan akan selalu berusaha membuat orang tuanya bahagia.
Tak terasa waktu sudah
semakin mendekati malam. Suara adzan berkumandang memanggil para umat untuk
segera bersujud di hadapan – Nya. Reina mengusap air mata yang mengalir di
pipinya. Matanya terasa pedih, bengkak serta memerah. Dengan badan yang masih
lemas, ia beranjak dari sudut kamar untuk berwudhu. Setelah itu ia salat
dengan khusuk dan berdo’a memohon ampun kepada sang Pencipta atas segala dosa –
dosa yang telah ia perbuat kepada orang tuanya serta mendo’akan orang tuanya
agar selalu dalam lindungan – Nya.
Setelah
hati Reina terasa tenang, dengan besar hati dan mengalahkan malu yang ada pada
dirinya, ia segera menelpon orang tuanya untuk meminta maaf. Kala itu tangis
Reina kembali pecah, begitupun dengan orang tuanya. Dalam hati Reina, ia
bertekad untuk berusaha tidak lagi menyakiti hati orang tuanya terutama sang ibu karena ia tahu bahwa surga ada di telapak kaki ibu.
Tugas ini diposting dari Perpustakaan SMAN 2 Magelang
Tugas ini diposting dari Perpustakaan SMAN 2 Magelang
OK, penulisan kata "ibu" tidak perlu diawali kapital, kecuali yang kata sapaan. Penulisan tanda baca dalam dialog juga perlu diperhatikan --> coba lihat cerpen atau novel bersastra di perpusatakaan.
BalasHapus